Dari Bench ke Basis Data: Pelatih Mulai Gunakan Machine Learning untuk Baca Performa Pemain Cadangan

Anda akan melihat bagaimana metode modern mengubah cara menentukan beban dan sets. Velocity-based training (VBT) menilai upaya dengan mengukur kecepatan gerak bar, sehingga keputusan menjadi objektif dan responsif.
VBT bekerja lewat empat aplikasi utama: feedback, autoregulasi, testing, dan kontrol volume. Metode ini menutup celah yang sering terjadi saat menggunakan %1RM saja, karena strength harian bisa berfluktuasi.
Teknologi pengukur bervariasi: LPT akurat namun mahal, IMU lebih terjangkau namun kadang menurun kualitas datanya, dan aplikasi smartphone murah dengan fungsi terbatas. Dengan data yang tepat, Anda bisa memprediksi beban assistance upper body dari bench press 6RM dengan kesalahan praktis rendah (~6.5–8.5%).
Di artikel ini, Anda akan diberi langkah-langkah penerapan VBT dan alur machine learning sederhana agar setiap session lebih adaptif, aman, dan fokus pada peningkatan performance tim.
Mengapa dari bench ke basis data relevan untuk pemain cadangan
Preskripsi beban berbasis %1RM sering mengasumsikan semua atlet merespons sama. Padahal penelitian menunjukkan jumlah repetisi maksimal berbeda nyata pada %1RM yang sama antar kelompok. Kekuatan harian fluktuatif dipengaruhi oleh fatigue, tidur, stress, dan nutrisi.
Mengukur kecepatan barbell pada bench press memberi sinyal kesiapan otot yang lebih cepat. Dengan metrik velocity Anda bisa autoregulasi beban tanpa harus tes 1RM yang makan time.
Untuk pemain cadangan, data singkat dari sesi 15–20 menit sudah cukup untuk melihat konsistensi teknik chest–back dan position. Data historis juga membantu menunjukkan progres sehingga motivasi dan adherence meningkat.
- Metode cepat membaca kesiapan pemain cadangan yang jam terbang pertandingan lebih rendah namun dituntut menjaga strength dan performance.
- Velocity mengurangi bias subjektif akibat variabilitas harian seperti kurang tidur atau recovery buruk.
- Autoregulasi mencegah set terlalu ringan atau berat, sehingga stimulus tetap tepat meski rotasi pemain berubah.
- Integrasi sederhana (barbell + sensor + protokol singkat) scalable untuk satu pemain sampai seluruh skuad.
Singkatnya, memindahkan output bench press ke bentuk data membuat pengambilan keputusan harian lebih objektif, aman untuk tubuh, dan efisien dari sisi training dan time.
Dasar-dasar Velocity-Based Training (VBT) sebagai fondasi analitik
Velocity-based training memberi kerangka kuantitatif untuk menilai usaha atlet setiap session. Ini bukan metode tunggal; ia adalah prinsip untuk mengkuantifikasi status fisiologis, intent, dan adaptasi.
Intinya: Anda memilih variabel velocity, perangkat, dan prosedur yang sesuai dengan exercises tim Anda. Perangkat modern memungkinkan pengukuran live, meski akurasi berbeda antar alat.
VBT sebagai prinsip, bukan “metode tunggal”
Lihat VBT sebagai kerangka berpikir. Ia membimbing bagaimana Anda mengukur movement dan force, bukan memaksa satu protokol tunggal.
Empat aplikasi: feedback, autoregulasi, testing, volume control
- Feedback: data real-time menaikkan intent dan rekrutmen motor, membantu peningkatan strength.
- Autoregulasi: sesuaikan beban set ke set berdasarkan kecepatan aktual pemain.
- Testing: estimasi kapasitas 1RM tanpa uji maksimal penuh — berguna untuk pemain cadangan.
- Volume control: gunakan velocity loss atau velocity stops untuk membatasi fatigue.
| Aspek | Manfaat | Penerapan pada press |
|---|---|---|
| Feedback | Meningkatkan intent dan motivasi | Gunakan indikator live saat bench dan press |
| Autoregulasi | Menjaga stimulus konsisten | Ubah load bila velocity turun di luar target |
| Volume control | Kurangi akumulasi fatigue | Stop set saat velocity loss mencapai ambang |
Memahami metrik velocity: mean, mean propulsive, dan peak
Membedah jenis-jenis velocity membantu Anda memilih metrik yang tepat untuk power atau strength.
Mean velocity adalah rata-rata seluruh fase konsentik penuh. Ia cocok untuk menilai strength pada exercise non-balistik seperti bench press atau squat, karena termasuk fase deselerasi.
Mean propulsive menghitung rata-rata saat akselerasi > gravitasi. Gunakan ini saat Anda ingin menangkap kapasitas akselerasi neuromuskular tanpa pengaruh deselerasi penuh.
Peak velocity adalah kecepatan instan maksimum. Pilih peak untuk gerakan balistik dan power, misalnya throws atau bench press throw, karena mencerminkan output puncak.
- Bedakan metrik agar target training jelas: strength vs power.
- Perhatikan chest–back alignment dan head neutral untuk stabilitas pembacaan.
- Standarkan barbell, plates, start position, dan cues untuk reliabilitas.
- Pilih satu metrik utama untuk pemain cadangan agar monitoring sederhana.
| Metode | Definisi | Sesuai untuk |
|---|---|---|
| Mean | Rata-rata fase konsentik penuh | Non-balistik, strength, bench press |
| Mean Propulsive | Rata-rata saat akselerasi > g | Akselerasi neuromuskular |
| Peak | Kecepatan instan maksimum | Power, throws, bench press throw |
Perangkat dan teknologi untuk mengukur kecepatan gerak
Teknologi pengukur velocity berbeda pada akurasi, fleksibilitas, dan biaya. Pilihan Anda akan memengaruhi validitas hasil dan alur kerja tim.
LPT (contoh: Gymaware) adalah gold standard: error rendah dan repeatability tinggi. Ini ideal bila Anda butuh akurasi pada path bar yang konsisten, namun harganya bisa mencapai ~£2000.
IMU (contoh: PUSH, Output Sports) lebih terjangkau dan fleksibel untuk berbagai machine dan barbell variations. Kualitas data bisa bervariasi; lakukan uji reliabilitas in‑house sebelum dipakai pada seluruh groups.
Aplikasi smartphone (contoh: MyLift) sangat ekonomis untuk logging dan verifikasi video. Fungsi live terbatas, tapi berguna saat time dan anggaran ketat.
Praktik terbaik untuk implementasi
- Pilih LPT jika Anda mengutamakan repeatability untuk tracking performance.
- Gunakan IMU bila mobilitas dan biaya jadi prioritas; uji posisi sensor pada body dan bar terlebih dahulu.
- Aplikasi smartphone cocok untuk baseline logging dan analisis cepat setelah exercises.
- Standarkan kalibrasi tiap session dan buat SOP: siapa menyiapkan, kapan charging, dan alur data ke portal.
- Uji perangkat dalam konteks gym—permukaan dan konektivitas memengaruhi results.
| Perangkat | Kelebihan | Kapan dipakai |
|---|---|---|
| LPT | Akurasi & repeatability tinggi | Tracking bar path konsisten |
| IMU | Fleksibel & lebih murah | Beberapa machine dan variasi bar |
| Smartphone | Ekonomis, mudah dipakai | Logging cepat dan verifikasi video |
Dari Bench ke Basis Data: Pelatih Mulai
Sensor velocity menghadirkan umpan balik instan yang membuat Anda mengatur beban press berdasarkan angka, bukan tebakan. Ini meningkatkan motivasi dan intent atlet saat mereka mendorong bar secepat mungkin.
Autoregulasi lewat zona velocity dan LVP lebih responsif dibanding %1RM statis. Hubungan force–velocity menunjukkan bahwa kekuatan dan kecepatan saling memengaruhi, jadi ubah load bila kecepatan menyimpang dari baseline.
Praktik singkat yang bisa Anda terapkan:
- Berpindah dari observasi subjektif ke keputusan berbasis data dari set pertama bench hingga akhir session.
- Terapkan target velocity sederhana pada press patterns untuk menjaga stimulus strength tanpa tes maksimal.
- Catat position, chest touchpoint, dan back arch agar angka dapat dibandingkan antar hari.
- Beri feedback visual/verbal setelah tiap reps untuk mempertahankan intent mendorong bar.
Rekam singkat per set (load, velocity, RPE) ke dashboard. Bandingkan kecepatan aktual dengan baseline untuk menilai kesiapan dan sesuaikan barbell atau beban. Mulai dengan 1–2 exercise inti, lalu tambah variasi saat alur data stabil.
| Langkah | Keuntungan | Kepentingan |
|---|---|---|
| Target velocity | Jaga stimulus strength | Tinggi |
| Standarisasi position | Data dapat dibandingkan | Sangat penting |
| Checklist safety | Kurangi risiko saat press | Kritis |
Membangun dataset latihan: dari bench press ke tabel performa

Mulai struktur data latihan Anda dengan format yang konsisten agar setiap session menghasilkan informasi yang dapat dianalisis. Data ringkas membantu Anda menilai kesiapan dan menyesuaikan program training dengan cepat.
Struktur data sesi: set, reps, load, velocity, waktu, RPE
Rekam variabel utama tiap set: load absolut/relatif, metrik velocity (mean/mean propulsive/peak), waktu set, RPE, dan catatan teknik. Sertakan juga identitas bar dan barbell bila berbeda agar tidak menimbulkan bias.
| Field | Contoh | Unit | Kenapa penting |
|---|---|---|---|
| tanggal / exercise | 2025-05-10 / bench press | – / – | Indeks untuk analisis jangka pendek |
| sets / reps / load | 3 / 5 / 80 kg | set / rep / kg | Dasar perhitungan volume dan LVP |
| velocity / waktu / RPE | 0.60 m/s / 20 s / 7 | m/s / s / SR | Menilai intent dan kelelahan |
| teknik (position, chest, grip) | touchpoint: mid-chest; width: medium | deskriptif | Menjaga reliabilitas pengukuran |
Standarisasi pencatatan untuk reliabilitas
Gunakan penamaan konsisten untuk variasi bench agar pencarian dan analitik mudah. Tandai juga point saat velocity loss tercapai untuk mengevaluasi efisiensi stimulus.
- Terapkan SOP pengisian segera setelah set selesai.
- Simpan video singkat untuk memvalidasi outlier velocity dan teknik body.
- Gunakan template digital yang otomatis menghitung rata-rata velocity dan menandai set yang perlu dihentikan.
- Lakukan audit mingguan untuk memastikan completeness dan konsistensi results.
Memakai bench press 6RM untuk memprediksi beban latihan bantuan upper body
Dengan persamaan sederhana, hasil 6RM pada press utama bisa memandu beban untuk beberapa exercises upper body. Ini mempercepat setup sesi dan membuat stimulus lebih konsisten antar pemain.
Persamaan prediksi praktis
Gunakan rumus berikut untuk estimasi cepat. Korelasi kuat (r=0.80–0.93) dan R2 tinggi menunjukkan model ini layak dipakai pada tim.
| Exercise | Persamaan (kg) | Keterangan |
|---|---|---|
| Hammer curl | 0.28 × bench press + 6.30 | Target kelompok otot: bisep |
| Barbell biceps curl | 0.33 × bench press + 6.20 | Gunakan barbell untuk konsistensi posisi |
| Overhead triceps extension | 0.33 × bench press − 0.60 | Kontrol eksentrik penting |
| Dumbbell shoulder press | 0.42 × bench press + 5.84 | Spotter disarankan untuk set berat |
Ketelitian praktik dan langkah safe
Hasil biasanya menyimpang ~6–9% dari nilai aktual (MAPE ~6.5–8.5%). Uji reliabilitas 0.82–0.98 mendukung penerapan tim.
- Validasi pada 1–2 session awal, lalu sesuaikan ±2.5 kg berdasarkan results dan teknik.
- Pastikan position dan alignment kepala/shoulder konsisten agar transfer beban representatif.
- Mulai lebih konservatif untuk pemain dengan fitness rendah atau teknik belum mapan.
- Uji ulang 6RM setiap 4–6 minggu untuk memperbarui prediksi.
Menyusun Load-Velocity Profile (LVP) untuk individualisasi
Profil load–velocity (LVP) adalah alat praktis untuk mengindividualkan program training. Anda membangun kurva dengan mem-plot load (kg atau %1RM) terhadap metrik velocity pilihan. Gunakan regresi linear untuk mendapat persamaan prediktif yang akan menaksir beban dari target velocity.
Langkah konstruksi LVP dan cek R2/stabilitas
Lakukan 3–5 set bertingkat dari ringan ke berat dengan intent maksimal. Plot setiap point load vs velocity lalu hitung R2; targetkan R2 tinggi (>0.95) sebagai tanda kualitas data.
Validasi dengan uji ulang singkat. Stabilitas biasanya tinggi untuk bench press dan squat (ICC >0.9, CV <10%).
Zona velocity individual dan penyesuaian beban harian
Simpan point referensi pada level kunci (mis. 80–90% 1RM). Buat zona velocity untuk strength (lebih lambat) dan power (lebih cepat). Gunakan LVP saat kondisi pemain berubah untuk menaksir beban yang sesuai.
- Standarkan position: set-up, grip, chest touchpoint, back arch.
- Buat LVP untuk bench press dan squat agar punya dua pilar data upper-body dan lower-body.
- Simpan results di satu table untuk analisis longitudinal.
| Langkah | Tujuan | Indikator |
|---|---|---|
| 3–5 set bertahap | Kumpulkan point load–velocity | Point per set, intent maksimal |
| Regresi linear | Dapatkan persamaan prediktif | R2 target >0.95 |
| Uji stabilitas | Validasi konsistensi | ICC >0.9, CV <10% |
| Referensi 80–90% 1RM | Panduan beban harian | Velocity pada level kunci |
Autoregulasi harian: velocity targets, velocity loss, dan intent

Autoregulasi harian memanfaatkan target velocity untuk membuat keputusan beban yang cepat dan objektif. Kamu bisa pakai zona velocity generik atau zona individual dari LVP untuk menyesuaikan intensity setiap sesi.
- Tetapkan target velocity per set sesuai tujuan (strength vs power) agar intent dan quality reps terjaga.
- Gunakan velocity loss 15–25% sebagai batas menghentikan sets untuk mengontrol volume dan kelelahan.
- Jika velocity lebih lambat ~0.06 m/s dari baseline, turunkan beban sekitar 5% agar stimulus tetap tepat.
- Beri cues teknik sederhana untuk menjaga movement efisien dan posisi kepala, chest, serta back stabil.
- Akhiri set saat target velocity tidak tercapai—fokus pada kualitas, bukan angka reps semata.
- Catat head position, grip, dan bar path untuk membedakan penurunan karena teknik atau fatigue.
- Metode ini berlaku pada hari bench/press dan dapat dikombinasikan dengan accessory untuk leg.
| Action | Threshold | Manfaat |
|---|---|---|
| Target velocity per set | Zona LVP atau generik | Jaga intensity dan intent |
| Velocity loss stop | 15–25% loss | Kurangi akumulasi fatigue |
| Deviasi kecepatan | ±0.06 m/s | Sesuaikan beban ~5% |
Review tiap set untuk menyesuaikan beban berikutnya di session yang sama. Dengan cara ini, training menjadi lebih responsif dan fokus pada peningkatan strength secara aman.
Contoh protokol upper body: bench press, shoulder press, dan variasi
Contoh protokol berikut menunjukkan bagaimana Anda menerjemahkan LVP menjadi sesi upper-body yang sederhana dan efektif.
Strength vs power: gunakan mean velocity untuk latihan non‑balistik seperti bench press dan peak velocity untuk gerakan balistik. Zona velocity bersifat personal; contoh referensi untuk ~90% 1RM adalah 0.37–0.43 m/s.
Protokol strength bench press: 4–6 sets × 2–4 reps di zona velocity lambat. Fokus pada chest touchpoint dan set scapula shoulder‑blade sebelum setiap unrack.
Protokol power shoulder press: 3–5 sets × 2–3 reps dengan intent tinggi. Jaga head netral dan bar path vertikal untuk pelekatan force yang efisien.
Praktik operasional: gunakan barbell dan weight plates terstandar agar bacaan velocity konsisten. Tetapkan velocity loss 10–20% pada hari power untuk menjaga kualitas.
- Posisi bench: feet planted, back arch alami, grip sesuai range yang memaksimalkan transfer weight.
- Catat muscles dominan: pectoralis, deltoid, triceps untuk periodisasi accessory exercise.
- Terapkan resistance band hanya bila tidak mengganggu pembacaan velocity dan keamanan position.
- Jika velocity drop besar, lakukan regressions (dumbbell variations) sebelum menambah load lagi.
- Periksa head, chest, back alignment sebelum unrack untuk mengurangi deviasi bar path.
| Tujuan | Struktur | Indikator kualitas |
|---|---|---|
| Strength | 4–6 sets × 2–4 reps | Mean velocity stabil, chest touchpoint konsisten |
| Power | 3–5 sets × 2–3 reps | Peak velocity tinggi, velocity loss ≤20% |
| Kontinuitas | Barbell & plates terstandar | RWP (repeatable weight placement) dan position tetap |
Contoh protokol lower body: squat, deadlift, leg press
Untuk latihan kaki, struktur sesi harus menggabungkan stabilitas teknik dan target velocity dari LVP. LVP pada squat dan deadlift menunjukkan reliabilitas tinggi (ICC >0.9, CV <10%), sehingga Anda dapat mempercayai zona kecepatan untuk menyesuaikan weight tiap set.
Protokol ringkas:
- Squat strength: 4–6 sets × 2–4 reps dengan velocity lambat. Fokus pada position lutut‑pinggul dan back neutrality.
- Deadlift: gunakan barbell yang sama, cue bracing, dan tracking velocity untuk mencegah overreaching pada lower back.
- Leg press: sebagai opsi machine untuk volume tambahan tanpa menambah kompleksitas teknik barbell.
Jaga position stance, foot angle, dan depth agar data velocity comparable. Atur range gerak sesuai mobilitas atlet dan catat perubahan untuk interpretasi. Gunakan resistance ringan saat teknik dipelajari atau pada hari fatigue agar movement tetap rapi.
Tambahkan jump squat ringan sebagai primer power untuk meminimalkan fase deselerasi dan menaikkan intent. Catat kelompok muscles utama (quadriceps, hamstring, glute) dan monitor back serta chest posture saat beban mendekati kapasitas hari itu.
| Exercise | Tujuan | Catatan |
|---|---|---|
| Squat | Strength & LVP | Position konsisten, velocity target |
| Deadlift | Capacity & safety | Barbell, bracing, trace velocity |
| Leg press | Volume kontrol | Machine untuk kontrol position |
Variasi latihan dan kelompok otot: memilih movements untuk data yang bersih

Pilih gerakan yang konsisten agar sinyal kecepatan jelas dan bebas gangguan teknik. Non‑balistik cenderung menampilkan fase deselerasi yang menurunkan mean velocity. Balistik menghilangkan fase itu sehingga peak terlihat lebih nyata.
Non‑balistik vs balistik
Gunakan bench press untuk training strength dan bench throw atau jump squat untuk power. Kombinasi ini membuat dataset komplet tanpa membingungkan model.
- Pilih movements yang meminimalkan noise data; varian balistik membantu menonjolkan peak.
- Catat posisi awal dan akhir (position) agar perbandingan antar variation konsisten.
- Pada jump squat, pakai weight ringan‑sedang dan fokus pada intent maksimal.
- Pastikan safety: gunakan Smith, medball, atau alat khusus saat melempar barbell.
- Dokumentasikan quality movement untuk menjelaskan outlier peak akibat teknik atau kompensasi shoulder/back.
- Pilih exercises yang merepresentasikan pola tubuh (body pattern) tim Anda dan progresi dari non‑balistik ke balistik mingguan.
- Untuk sesi pertama balistik, atur weight konservatif demi akurasi dan keselamatan.
| Tujuan | Rekomendasi | Indikator kualitas |
|---|---|---|
| Strength | Bench press, mean velocity | Position stabil, sedikit noise |
| Power | Bench throw / jump squat, peak velocity | Peak jelas, teknik terjaga |
| Keamanan | Alat terkontrol, weight konservatif | Tidak ada kompensasi shoulder/back |
Merancang alur Machine Learning sederhana untuk analisis performa
Langkah awal adalah membuat pipeline yang andal: dari pembersihan data sampai pembaruan model tiap siklus mesocycle. Tujuan Anda adalah mengubah LVP dan pengukuran velocity menjadi prediksi yang actionable untuk keputusan beban dan penilaian kesiapan pemain cadangan.
Pembersihan data, fitur velocity, dan target performa
Pertama, bersihkan dataset: hapus outlier seperti missed reps dan rekaman dengan teknik buruk. Normalisasi position dan bar path agar nilai velocity konsisten antar session.
Buat fitur utama: mean velocity, peak velocity, velocity loss per set, waktu antar sets, dan deviasi point dari baseline pada level beban tertentu. Masukkan juga variabel kategorikal seperti tipe bar untuk mengurangi bias.
Tentukan target model: Anda bisa memilih klasifikasi sederhana (“siap” / “kurang siap”) atau regresi yang memprediksi beban set berikutnya berdasarkan perubahan velocity (±0.06 m/s ≈ ~5% 1RM).
Validasi silang dan pembaruan model per siklus
Lakukan cross‑validation (k‑fold) untuk menilai generalisasi pada data pemain cadangan. Gunakan metrik R2 dan error absolut; LVP menyediakan persamaan prediktif yang membantu memberi label beban dan mengecek validitas (R2 sebagai indikator kualitas).
Perbarui model setiap mesocycle agar ia belajar dari adaptasi strength dan perubahan training. Integrasikan data dari bench press dan squat sebagai fitur inti; tambahkan exercises lain bila kualitas rekaman memadai.
| Langkah | Tujuan | Output |
|---|---|---|
| Pembersihan & normalisasi | Kurangi noise teknik | Dataset bersih, posisi standarisasi |
| Pembuatan fitur | Tangkap sinyal velocity | Mean, peak, loss, deviasi point |
| Pelabelan target | Definisikan siap/kurang siap atau beban | Label klasifikasi/regresi |
| Validasi & update | Pastikan generalisasi | k‑fold CV, R2, retrain per mesocycle |
Praktis: otomatisasi impor results dari portal device, dokumentasikan experience implementasi, dan buat SOP agar staf dapat menjalankan pipeline tanpa hambatan.
Integrasi ke sesi: feedback real-time, intensitas, dan pengambilan keputusan
Feedback real‑time mengubah sesi Anda menjadi proses keputusan cepat. Saat atlet melihat kecepatan di layar, intent dan intensity meningkat. Ini membantu menjaga kualitas rep dan mencegah akumulasi kelelahan.
Atur alur sederhana agar efisien secara time: unrack, cek position, lakukan reps, lihat feedback, dan putuskan lanjut atau berhenti. Proses ini membuat setiap keputusan berbasis angka, bukan asumsi.
Gunakan equipment yang mudah dibaca dan bar/barbell yang sama sepanjang session. Konsistensi alat dan posisi tubuh mengurangi artefak data dan menjaga reliabilitas pembacaan.
Threshold kecepatan untuk menghentikan set (velocity stops)
Velocity stops adalah metode kunci untuk kontrol volume. Terapkan batas loss—mis. 20% velocity loss—sebagai sinyal menghentikan set. Batas ini mengurangi junk volume dan melindungi teknik chest, back, dan body alignment.
| Action | Threshold | Manfaat |
|---|---|---|
| Tampilkan feedback di layar | Real‑time | Panduan intensity & keputusan |
| Velocity stops | ~20% loss | Hindari junk volume |
| Standarisasi | Sama barbell & position | Data konsisten |
| Log keputusan | Setiap set | Analisis pola fatigue |
- Sinkronkan hari press/bench dengan accessory yang mendukung pola gerak.
- Komunikasi singkat antar set agar keputusan cepat dan berdasar data.
- Rekam alasan berhenti dalam log untuk review mingguan terhadap performance.
Keamanan, reliabilitas, dan validitas pengukuran

Keandalan pengukuran menentukan seberapa percaya Anda pada rekomendasi beban berikutnya. Untuk bench, squat, dan deadlift, LVP menunjukkan reliabilitas sangat baik (ICC >0.9; CV <10%) dan validitas tinggi (R2 >0.95) pada banyak exercise.
Protokol in-house reliability dan kontrol variabel pengganggu
Susun protokol uji internal: ulangi pengukuran pada kondisi serupa untuk menghitung ICC dan CV. Catat setiap point kondisi session supaya results dapat dibandingkan.
- Standarisasi machine, perangkat, kalibrasi, dan posisi pemasangan sensor tiap sesi.
- Kontrol variabel pengganggu: tidur, nutrisi, jam pengukuran, pemanasan—catat di log session.
- Validasi LVP dengan R2; hindari mengambil keputusan dari data noisy.
- Pastikan position dan cue teknik konsisten untuk mengurangi error pengukuran.
- Dokumentasikan experience penerapan untuk pembelajaran staf dan atlet baru.
- Lakukan drill keselamatan: spotter, rack height, klip bar, dan pengecekan head/shoulder alignment.
- Audit results berkala untuk mendeteksi drift perangkat atau perubahan pola teknik.
- Gunakan checklist pra-latihan untuk memastikan kesiapan body dan perangkat.
- Edukasi atlet tentang alasan prosedur agar kepatuhan tinggi dan data lebih bersih.
| Langkah | Tujuan | Indikator |
|---|---|---|
| Uji reliabilitas in-house | Hitung ICC & CV | ICC >0.9, CV <10% |
| Validasi LVP | Cek R2 | R2 >0.95 |
| Audit perangkat | Deteksi drift | Perbaikan kalibrasi / retraining |
Manfaat dan tantangan: dari motivasi atlet hingga kualitas perangkat
Feedback real‑time dari sensor sering kali langsung menaikkan engagement atlet saat latihan. Anda akan melihat intent lebih tinggi dan reps lebih berkualitas ketika angka tampil di layar.
VBT membantu menjaga strength pemain cadangan tanpa perlu tes maksimal yang berisiko atau makan time. Struktur training juga jadi jelas sehingga staff dapat fokus pada kualitas setiap set.
Tantangannya nyata. Kualitas IMU dan beberapa machine dapat bervariasi, sehingga Anda perlu uji reliabilitas internal sebelum mengandalkannya. Zona velocity generik sering terlalu lebar; solusi praktisnya adalah membuat LVP individual dan meninjau position teknik.
- Perubahan chest/back posture bias data—standarisasi setup wajib.
- Pilih exercises stabil untuk tracking; beberapa gerakan lebih bersih sinyalnya.
- Barbell free‑weight menuntut kontrol lebih; siapkan alternatif bila kelelahan muncul.
- Perangkat yang mudah dipakai meningkatkan kepatuhan dan mengurangi beban staf.
- Investasi pada machine harus seimbang dengan manfaat jangka panjang untuk pengambilan keputusan.
| Aspek | Manfaat | Tantangan |
|---|---|---|
| Motivasi & intent | Feedback real‑time menaikkan effort | Butuh perangkat yang responsif |
| Keandalan pengukuran | LVP meningkatkan akurasi beban | IMU/alat murah perlu uji ulang |
| Operasional | Percepat keputusan saat sesi | Butuh SOP & dokumentasi |
| Transfer ke accessory | Prediksi beban untuk leg dan shoulder work | 1RM prediksi lebih akurat di upper/body Smith vs free‑weight |
Dokumentasikan pembelajaran tiap siklus supaya Anda dapat menyempurnakan program dan memilih machine yang paling pas untuk tim Anda.
Mini studi kasus: memetakan performa pemain cadangan selama satu mesocycle
Kasus singkat ini menunjukkan bagaimana data velocity membimbing keputusan harian selama satu mesocycle. Anda akan membaca rangka kerja praktis yang mudah diikuti oleh staf dan atlet cadangan.
Mulai minggu pertama Anda bangun baseline LVP untuk bench press (upper body) dan squat (lower body). Catat sets, reps, weight, dan metrik velocity setiap set.
Gunakan target velocity untuk menentukan intensity harian. Hentikan set bila velocity loss tercapai. Tambahkan assistance berdasarkan prediksi 6RM dari bench press untuk menghemat waktu siklus.
- Tinjau weekly results pada posisi kunci: chest dan back alignment, serta head netral.
- Minggu 3–4 sesuaikan beban set ke set menurut deviasi velocity; jaga kualitas teknik saat fokus pada leg strength.
- Dokumentasikan bar, barbell, dan machine agar rekaman konsisten antar session.
- Monitor shoulder stabilitas saat pressing dan back posture saat lower body days.
| Minggu | Fokus | Output |
|---|---|---|
| 1–2 | Bangun LVP bench press, squat | Baseline velocity, sets & weight |
| 3–4 | Autoregulasi beban per set | Penyesuaian intensity, peningkatan leg power |
| Akhir mesocycle | Evaluasi efisiensi | Perbandingan velocity pada weight sama, rencana siklus berikut |
Hasil analisis menunjukkan LVP stabil pada %1RM walau strength berubah. Dari sini Anda dapat menyusun rencana selanjutnya berdasarkan pola adaptasi dan kelompok muscles yang perlu perhatian.
Kesimpulan
VBT mengubah pengambilan keputusan latihan dari intuisi menjadi angka yang dapat ditindaklanjuti.,
Velocity‑based training efektif untuk autoregulasi dan memberikan feedback instan. LVP terbukti valid dan reliabel untuk banyak exercise, sehingga Anda dapat menilai strength dan menetapkan target set‑to‑set.
Gunakan bench press sebagai jangkar data untuk prediksi beban assistance upper body; model 6RM biasanya akurat dengan MAPE ~6–9%. Pilih teknologi (LPT, IMU, atau aplikasi) sesuai konteks, namun jaga konsistensi prosedur dan logging.
Fokus pada position, chest/back/head yang stabil. Integrasikan squat dan pola barbell agar program seimbang. Terapkan perubahan kecil pada movement dan weight berdasar hasil velocity untuk menjaga fitness skuad dan kesiapan performa pekanan.






