
Zulfikar Hamonangan, Anggota Komisi VI DPR RI, mengungkapkan peringatan seriusnya kepada pemerintah terkait konsekuensi yang mungkin ditimbulkan oleh situasi geopolitik dunia terhadap sektor pertanian di Indonesia. Fokus utamanya adalah pada potensi kenaikan harga pupuk yang dapat terjadi.
Konflik AS-Israel vs Iran dan Dampaknya pada Harga Pupuk
Zulfikar menyoroti bahwa perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat mengacaukan rantai pasok energi serta bahan baku industri pupuk internasional. Situasi ini, jika tidak diantisipasi, dapat berdampak pada harga pupuk di pasar domestik.
“Ketika konflik geopolitik memuncak, biasanya harga energi dan bahan baku pupuk akan ikut meningkat. Dampaknya langsung terasa oleh petani karena biaya produksi mereka menjadi lebih mahal,” ujar Zulfikar dalam pernyataannya yang dikeluarkan pada Kamis (12/3/2026).
Dampak Kenaikan Harga Pupuk pada Petani
Menurut politisi Partai Demokrat tersebut, kenaikan harga pupuk dapat menyebabkan petani menunda atau memangkas durasi masa tanam mereka. Hal ini berpotensi menurunkan produksi dan memicu kenaikan harga komoditas pangan, termasuk sayur-sayuran.
Zulfikar juga mencatat bahwa tekanan terhadap sektor pertanian bisa semakin bertambah akibat potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang disebabkan oleh ketidakstabilan geopolitik global.
“Jika harga energi bersifat naik, maka biaya produksi dan distribusi akan ikut meningkat. Kemampuan pemerintah untuk memberikan subsidi pun terbatas dalam menangani kenaikan tersebut,” katanya.
Ketergantungan Indonesia pada Impor Bahan Baku Pupuk
Zulfikar menekankan bahwa Indonesia sangat bergantung pada impor bahan baku pupuk. Kondisi ini membuat sektor pertanian menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi pasar global. “Selama kita masih tergantung pada impor bahan baku, setiap krisis global akan langsung berdampak pada sektor pertanian kita,” ungkapnya.
Politisi tersebut juga menyinggung masalah distribusi pupuk bersubsidi yang masih rentan terhadap praktek mafia pupuk di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 2.000 kios pupuk pernah ditutup akibat dugaan penyimpangan dalam distribusi. “Ini menunjukkan bahwa manajemen distribusi pupuk masih perlu diperbaiki,” katanya.
Peluang Penyelesaian Masalah
Zulfikar mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan distribusi pupuk dan sekaligus meningkatkan produksi bahan baku pupuk dalam negeri. “Komisi VI DPR RI akan terus mengawasi kebijakan industri pupuk nasional agar petani tidak menjadi pihak yang paling dirugikan setiap kali terjadi gejolak global,” ucap Zulfikar.
Data dan Fakta Seputar Ketergantungan Sektor Pertanian terhadap Pupuk
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa ketergantungan sektor pertanian terhadap pupuk sangat tinggi. Sensus Pertanian 2023 mencatat sekitar 27,8 juta rumah tangga usaha pertanian, dengan 17,2 juta di antaranya adalah petani gurem yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya produksi.
Di sisi lain, BPS mencatat impor pupuk Indonesia mencapai sekitar 7,52 juta ton pada 2024, dengan nilai sekitar 1,98 miliar dollar AS berdasarkan data UN Comtrade.
Sebagian besar pasokan impor berasal dari Tiongkok, Rusia, Kanada, Mesir, dan Yordania, sehingga harga pupuk domestik sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan pasar global.



