
Kamu akan segera merasakan perubahan besar saat teknologi offside dipakai lebih rutin di liga. Premier League sudah sepakat untuk mengadopsi sistem semi-otomatis yang pertama kali diuji pada piala dunia 2022. Keputusan ini diambil setelah banyak insiden kontroversial yang memicu debat panjang tentang peran wasit dan VAR.
Sistem baru mengandalkan pelacakan optik untuk menempatkan garis virtual lebih cepat. Hasilnya: pemeriksaan VAR untuk offside jauh lebih singkat dan tayangan jadi lebih jelas bagi penonton di stadion dan TV.
Meski disebut semi-otomatis, wasit tetap memegang otoritas pada aspek subjektif seperti gangguan permainan. Kamu bisa membaca detail standar global yang menginspirasi adopsi ini melalui standar global.
Peta Jalan Premier League: Dari Piala Dunia 2022 ke Penerapan SAOT di Musim 2024/2025
Perjalanan adopsi teknologi itu dimulai dari eksperimen besar di turnamen internasional lalu berlanjut ke keputusan kompetitif di liga domestik.
Pada 11 April 2024 klub-klub Premier League secara bulat menyetujui keputusan untuk membawa sistem semi-otomatis ke kompetisi domestik. Rencana resmi menempatkan peluncuran setelah jeda internasional September/Oktober agar semua pihak punya waktu pelatihan.
Teknologi diuji pada Piala FA, termasuk semifinal dan final di Wembley, sebelum dipakai dalam pertandingan liga pada pekan ke-32. Debut live tercatat saat Manchester City menghadapi Crystal Palace di Etihad Stadium pada Sabtu 12 April 2025.
Tujuannya jelas: memangkas waktu pemeriksaan menjadi sekitar 31 detik. Angka ini mengejar tren perbaikan dari rata-rata 64 detik lalu turun ke 39 detik.
- Peluncuran bertahap menjaga ritme pertandingan dan memberi ruang penyesuaian teknis.
- Garis offside virtual disiapkan lebih cepat sehingga momen-momen krusial tidak lama tertahan di layar VAR.
- Kerja sama dengan PGMOL dan Genius Sports memastikan data dan proses dapat dipertahankan jangka panjang.
Jika kamu ingin membaca liputan mendetail tentang teknologi offside dan langkah Premier League, cek ulasan lengkap di liputan teknologi offside.
Offside Otomatis 2025: Mulai Musim Depan, bagaimana SAOT bekerja dan mengubah proses keputusan

Di balik keputusan cepat kini ada jaringan kamera dan pemrosesan data real-time.
SAOT memanfaatkan hingga 30 kamera di stadion yang merekam hingga 100 frame per detik. Setiap pemain dipetakan sampai 10.000 titik data pada permukaan tubuh untuk menilai posisi saat bola disentuh.
30 kamera, data tubuh, dan deteksi kick-point
Kamera berkecepatan tinggi mengumpulkan data kontinu. Sistem lalu mendeteksi kick-point dalam detik sehingga proses tidak lagi bergantung pada penggambaran manual.
Garis virtual dan animasi 3D untuk transparansi
Setelah pemrosesan, sistem menghasilkan garis offside virtual otomatis. Operator assistant melakukan verifikasi akhir sebelum keputusan diumumkan.
Efisiensi vs akurasi
Premier League menyatakan teknologi ini memangkas sekitar 30 detik tanpa menurunkan akurasi yang diklaim 100%. Namun, saat occlusion terjadi—seperti pada Bournemouth vs Wolverhampton di Piala Dunia—proses manual masih diperlukan dan bisa memakan waktu lebih lama.
| Fitur | Spesifikasi | Manfaat |
|---|---|---|
| Kamera | Hingga 30 unit, 100 fps | Pelacakan gerak presisi |
| Pemetaan tubuh | ~10.000 titik per pemain | Penentuan posisi yang rinci |
| Output visual | Garis hijau/merah + animasi 3D | Transparansi untuk stadion & siaran |
| Verifikasi | Assistant VAR + wasit | Keputusan sesuai protokol pertandingan |
- Data kamera membantu mengurangi perdebatan dengan bukti visual yang lebih jelas.
- Keputusan akhir tetap mempertimbangkan konteks permainan, termasuk gangguan posisi pemain.
Kontroversi berkurang atau bergeser? Peran wasit, VAR, dan “Hukum Wenger” di horizon

Perdebatan kini bergeser dari posisi sepatu ke interpretasi keseluruhan tubuh pemain.
Subjektivitas masih ada: penilaian apakah seseorang mengganggu jalannya permainan atau sengaja menyentuh bola tetap menjadi ranah wasit dan assistant VAR.
Subjektivitas tetap ada: mengganggu permainan, sentuhan disengaja, dan keputusan asisten wasit video
Kamera dan grafik membantu menjelaskan momen di lapangan, tetapi visual tidak selalu memberi jawaban final.
Kamu akan tetap melihat assistant memutuskan bila ada interferensi terhadap pemain lawan.
Revolusi definisi ala Arsene Wenger: dampak pada garis tinggi dan ruang di belakang bek
IFAB mempertimbangkan definisi yang menyatakan serangan sah selama ada bagian tubuh sejajar dengan bek terakhir.
- Hukum ini bisa mengurangi keputusan offside yang memakan milimeter kecil.
- Namun, garis tinggi berisiko karena ruang di belakang bek menjadi lebih berbahaya.
- Penerapan di premier league dan turnamen seperti piala dunia akan melalui fase uji coba sebelum keputusan final.
Kesimpulannya: kontroversi mungkin menurun soal milimeter, tetapi bergeser ke interpretasi posisi dan koordinasi garis. Kamu harus menunggu uji coba terbatas agar efek taktis tampak nyata.
Kesimpulan
Implementasi baru ini menempatkan data dan wasit dalam satu alur keputusan yang ringkas. Kamu akan melihat proses lebih cepat di premier league, dengan pemangkasan sekitar 30–31 detik berkat dukungan sekitar 30 kamera dan animasi 3D.
Teknologi memberi visual yang jelas saat bola disentuh, sementara verifikasi manusia memastikan konteks permainan tetap dihitung. Akurasinya diklaim 100% setelah pengecekan VAR.
Perubahan ini membantu pemain mempertahankan ritme dan membuat keputusan dalam pertandingan lebih transparan. Untuk pembahasan lebih lengkap tentang aturan baru dan detail teknis, baca ulasan terkait di aturan baru liga Inggris.


